Senin, 30 Maret 2015

Dia Tertindas, Terlindas di saat Melintas (Sabtu, 28 Maret 2015)



Dia adalah ular. Binatang yang memanjang, namun dapat mematikan. Ironisnya, hewan melata ini akan tertindas ketika terlindas kendaraan yang melintas. Berdasarkan hasil penelusuran data situs mogenD, http://mogendbike.blogspot.com, ada beberapa ular yang akhirnya mati mengenaskan di jalanan sejak tahun 2008-2015.  


            Pada tanggal 13 Desember 2008 ditemukan Ular Picung atau urang Sunda biasa mengenalnya dan Ular Pudak Seruni untuk wong Jowo mati akibat digilas kendaraan. Begitu pula pada tanggal 28 Maret 2009 tergeletak seekor ular yang sudah gepeng dengan posisi terbalik. Jadi ngak diketahui jenis ularnya.


Kemudian tanggal 30 Agustus 2014 diketahui seekor ular dengan corak belang-belang berwarna merah putih. Kemungkinan besar ini Ular Belang atau Ular Weling. Dan belum lama, pada 28 Maret 2015 kembali ditemukan ular yang sudah tak bernyawa berjenis Ular Picung. Semua kejadian itu diabadikan saat kawan-kawan gowes pada hari Sabtu yang menjadi rutinitas olahraga bersepeda.     


            Kita hanya berharap semoga ngak ada lagi ular-ular yang mati sia-sia di jalan. Ini jelas akan memutus mata rantai hidup yang bisa mengakibatkan keseimbangan lingkungan terganggu.  
Berikut rekomendasi rujukan website soal Ular Picung dan Ular Belang:


-http://id.wikipedia.org/wiki/Weling


            Ooo iya dalam perjalanan Sabtu (28/3/2015) lalu lebih banyak menelusuri jalur-jalur offroad seperti kebun, pematang sawah/empang, semak-semak, dan sebagainya. Di tengah pematang sawah sempet ngobrol dengan Pak Tani dan Bu Tani yang sedang memasang jala untuk menghalau padinya dari serangan burung-burung.


Setelah itu terdapat insiden kecil, dimana Bang Atrial terjatuh saat berhenti sejenak di sebuah tegalan empang atau kolam ikan di kawasan Tapos, Kota Depok. Meski kaki sebelah kiri Bang Atrial kokoh memijak tanah, namun tanpa sadar saat menaiki sepeda, pijakan kaki kanan berada tepat di bibir kolam yang konturnya sangat miring. Sudah ditebak, keseimbangannya terganggu dan akhirnya terjun ke dasar empang. Bersyukur, kejadian tersebut tidak menyebabkan luka, hanya bagian belakang badannya yang basah bercampur sedikit lumpur. Tak jauh dari lokasi kebetulan ada sungai kecil, sehingga sebagian badannya yang kotor bisa lekas dibersihkan.


            Di akhir perjalanan, untuk melepas lelah, kawan-kawan beristirahat di warung gado-gado. Posisi yang dipilih persis di bawah pohon duku yang lagi berbuah. Sambil menyantap makanan dan minuman teh hangat, di antara rekan-rekan pun saling mengobrol tentang berbagai hal. Dan yang genjot saat itu di antaranya Bang Atrial, Bang Ghiri, Bang Andi, Aki Slamet, Djoenie, dan Maslow. Dah dulu ya…


Regards


djoeniE







































SERBA SERBI: Petani Pasang Jala Penghalau Burung, Gulma di Kolam, dan Buah Duku. (Sabtu, 28 Maret 2015)









Sabtu, 14 Maret 2015

Sanksi Diarak Warga & Jembatan Belum Jadi (Sabtu-14 Maret 2015)




seperti biasanya, perjalanan Sabtu, (14/3/2015) lalu mengalir begitu saja. Ini lantaran rute yang ditempuh tak terlalu jauh dan sering dilintasi. Namun menjadi luar biasa karena menemukan dua hal yang dianggap unik dan menantang. Pertama terkait dengan plang kebersihan yang ancaman sanksinya bisa dibilang sadis. Kedua, kerja keras melintasi jembatan bambu yang belum selesai.

Di awal perjalanan rekan-rekan sempat dikejutkan dengan sebuah plang yang terpasang di bawah jembatan Tol Jagorawi. Isinya tegas, unik, dan menggelitik. Intinya supaya masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. Ancaman sanksinya pun tak main-main, diarak keliling kampung. So be careful kalo buang sampah di kawasan itu jika ngak mau di-bully warga setempat. 

Ini dia bunyi plang itu :   

Perhatian. Siapa pun yang membuang sampah di areal jalan ini dan tertangkap warga!!! Sangsinya (seharusnya sanksinya) akan kami arak keliling kampung”. 
           
Berikutnya, saat kawan-kawan melintasi sebuah jembatan bambu yang membelah Kali Cikeas, Bogor, Jawa Barat. Betapa tidak, jembatan itu belum selesai 100 persen alias masih dikerjakan oleh warga setempat. Rekan-rekan pun yang ingin melintas terlebih dahulu menanyakan kepada warga itu apakah bisa dilalui? Beruntung seorang warga yang tengah melakukan pengerjaan jembatan mengizinkan. ”Bisa Pak! Tapi hati-hati,” ujarnya.

            Memang di ujung jembatan belum sepenuhnya terpasang bambu yang menjadi pondasi jembatan. Hanya bagian samping saja yang baru terpasang. Meski demikian, tidak menyurutkan kawan-kawan untuk melintas. Satu per satu sepeda terpaksa diangkat. Seorang demi seorang pun melintas.
           
            Karena sempitnya diameter jembatan, maka seorang warga yang sedang mengikat bambu di tengah jembatan terpaksa harus mundur terlebih dahulu. Ini untuk memberikan ruang kepada seorang rekan untuk melintas. ”Maaf ya pak,” ujar seorang kawan sambil melintas.
           
            Seorang warga, yang biasa disapa Pak Haji mengaku sudah seminggu mengerjakan jembatan bambu itu. Kemungkinan besar tidak lama lagi jembatan tersebut akan selesai dan bisa digunakan. Di akhir perlintasan, seorang rekan yang sebelumnya urunan sempat memberikan uang alakadarnya untuk kedua warga itu. ”Terima kasih pak sudah bisa diizinkan lewat,” kata seorang kawan kepada warga itu.

Setelah melintasi jembatan dan menapaki tanjakan, rekan-rekan pun lantas rehat sejenak di warung. Nah yang genjot kemarin di antaranya Bang Atrial, Bang Ghiri, Aa Dede Dahlan, Aki “Slamet”, dan djoeniE. Dah dulu ya…

Regards

djoeniE